Dia Seperti Boneka

Aku terjebak di masa lalu suami, petualangan yang tak pernah dia impikan baersamaku.

Panggil aku Nia (29), bunda dari Syifa (1) dan istri dari Sony (33). Kami telah menikah 4 tahun dan tinggal di kota S, kota yang sangat panas. Pernikahan itu tanpa pacaran panjang sebagaimana mestinya. Suatu hari dia datang dan memintaku menjadi istrinya. Entah mengapa, aku meminta waktu beberapa hari, dan kemudian menjawab “Ya”.

Kuakui, saat itu aku memang baru patah hati. Dan tiba-tiba, Sony, yang memang cukup terkenal di daerahku, melamar. Dia terkenal karena kebandelannya dan kekayaan keluarganya. Jadi, barangkali waktu itu aku sekadar mencari pelampiasan atas sakit hatiku. Aku sendiri tak tahu apa alasan Sony. Dia hanya bilang, aku adalah perempuan yang dia inginkan jadi ibu dari anak-anaknya. Kami pun menikah, dan aku mencoba mencintainya.

Cintaku tumbuh dengan cepat. Begitu kami menikah, aku telah secara ikhlas dapat menerimanya dan mencintainya. Maka hari-hari pertama pernikahan berjalan begitu indah. Dan karena aku mencintainya, tak kulihat kejanggalan-kejanggalan saat itu. Semua masih tertutupi oleh rasa sayang dan madu pernikahan. Ganjalan-ganjalan kecil seperti tak pernah menjadi hal yang patut dikhawatirkan. Tapi, tiga bulan setelah pernikahan, aku menyadari, ganjalan itu adalah hal yang sangat tidak wajar.

Sony misalnya, sangat suka cerita tentang masa lalunya, dunia malamnya. Dia cerita semua diskotik dan suasana di sana. Terus-terang, duniaku memang sangat berbeda dari dia. Seumur hidup, tak pernah aku menginjakkan kaki di diskotik dan dugem. Tapi, itulah dunia Sony. Aku mendengarkan dengan mencoba menekan perasaan. Tapi cerita dia tak berhenti di situ. Dia juga cerita tentang semua mantan pacar-pacarnya. Cukup? Tidak. Sony selalu dengan bangga cerita petualangannya, keintiman mereka, kemesraan dengan si A, B, dan si Z. Detil, penuh rasa bangga, sampai deskripsi tubuh dan wajah kekasih. Aku mencoba tetap mendengar. Tapi pelan-pelan muncul rasa bosan. Karena, di mana pun kami berada, jika dia pernah dulu di sana bersama kekasihnya, dia akan bercerita. Kenangan masa lalu seperti tak ada habis-habisnya. Dia seperti hidup di dalam masa lalunya. Dia seperti memuja para kekasihnya, dan kenikmatan hubungan “liar” mereka dulu.

Yang terjadi denganku adalah kebalikannya. Jika dengan bangga dia cerita tentang agresivitas kemesraan masa lalunya, denganku Sony seperti boneka. Dia seperti boneka hidup, hanya diam, dan tak melakukan apa pun. Aku yang bergerak dan “menyerangnya”. Dia hanya menerima, dengan mata menerawang. Tubuhnya intim bersamaku, tapi pikirannya kutahu tidak pernah ikut. Awalnya aku mencoba menerima. Tapi akhirnya aku merasa tidak punya harga di depan dia. Dia seperti tak pernah menganggap aku ada.

Kehamilan kukira akan mengubah segalanya. Tapi aku salah. Tak ada perubahan berarti. Dia tetap bercerita tentang masa lalunya, dan mulai menjalani lagi kehidupan malamnya, di masa akhir kehamilanku. Kelahiran Syifa malah membuat dia memilih tidur di kamar yang berbeda. Alasannya, tak ingin tidurnya terganggu karena rengekan anakku yang ingin disusui. Dan jika dia “ingin”, Sony akan “meminta”, dan kami melakukannya di kamar berbeda. Dan aku yang lalu “kusurupan”, di atas boneka dengan mata yang menerawang. Tak ada belas kasih atau ucapan terimakasih.

Awalnya, aku merasa apakah karena aku kurang cantik dibandingkan para mantannya. Lalu kucari tahu wajah-wajah para kekasihnya di foto-foto lama mereka di rumah orang tuanya. Dan aku wajib bangga. Untuk wajah barangkali nilai kami bisa sama. Tapi soal tubuh, aku bisa merasa lebih seksi daripada mereka. Jadi, bukan itu alasannya. Bukan karena fisikku. Jadilah aku seperti orang bingung. Di rumah suami tanpa penghargaan sama sekali. Di kantor, banyak sekali kunikmati mata lelaki yang memandangku dengan kagum. Beberapa teman kantor pun sering memanggilku seksi, dan terusterang memujiku. Aku menikmati kebanggaan, rasa dihargai, justru dari lelaki lain, dari mata lelaki yang kadang tak kukenali.

Ketika aku tahu kalau Sony memiliki pacar lagi, makin dalam rasa sakitku. Apa sih kurangnya aku. Dan kenapa dia memilihku menjadi istrinya, kalau perlakukan dia tak ubahnya seperti majikan. Kadang aku merasa dia memilihku hanya untuk mendapatkan anak saja. Atau menjadi perawat pribadinya. Kadang aku ingin berontak, tapi bagaimana? Aku terdidik begitu menghargai suami, harus memuja suami. Tapi lelaki ini, sangat tak pantas aku puja dan hargai.

Perlahan cintaku luntur. Dia yang melunturkannya. Nyaris 4 tahun pernikahan, dan kehampaan mulai menghinggapiku. Aku lebih suka di kantor, dan bercanda dengan teman-teman bisa menaikkan harga diriku. Sony tetap bangga dengan masa lalunya, agresifitas hubungan mereka, dan lalu menjadi “boneka” bagiku. Dia seperti mengejekku.

Kadang, pikiran buruk datang juga. Apa aku selingkuh saja? Apa aku harus melayani gombalan lelaki di kantorku yang menatapku dengan rasa kagum itu? Apa aku balas semua tingkah Sony yang tak pernah menghargaiku? Tapi pikiran sehatku masih berjalan. Masalahnya, sampai kapan? Apalagi aku tak bisa menceritakan hal ini kepada siapa pun. Ini aib, dan bercerita ini menunjukkan betapa kacaunya diriku di depan suami. Entahlah, aku panik. Aku cemas akan masa depan pernikahan ini. Aku tak bisa hidup dengan boneka, yang hanya agresif dengan orang lain. Aku tak bisa hidup terus dengan “penghNiaan” semacam itu. Aku harus mengubah hidupku. Tapi bagaimana….

Sebagaimana cerita Nia kepada redaksi

Tinggalkan Balasan